Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Pemimpin Baru Iran Desak Penutupan Pangkalan AS di Tengah Serangan Udara Israel
Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial pada hari ke-14. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan perdana pasca-suksesi, sementara militer Israel meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran ke pusat pemerintahan di Teheran.
Dalam pidato pertamanya sejak menggantikan mendiang ayahnya, Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei mengeluarkan ultimatum keras kepada kekuatan asing di kawasan tersebut.
Ia menegaskan bahwa stabilitas hanya akan tercapai jika militer Amerika Serikat meninggalkan wilayah Teluk.
"Pangkalan-pangkalan yang menampung pasukan AS di kawasan ini harus segera ditutup, atau serangan akan terus berlanjut," tegas Khamenei dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Agresi Militer dan Krisis Kemanusiaan
Situasi di lapangan kian memanas setelah militer Israel mengumumkan dimulainya "gelombang serangan luas" yang menargetkan ibu kota Iran, Teheran.
Operasi ini dibarengi dengan perintah evakuasi paksa di Beirut, Lebanon, yang juga menjadi sasaran serangan udara baru.
Dampak kemanusiaan dari konflik ini mulai mencapai titik kritis. Menurut data terbaru dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR), diperkirakan sekitar 3,2 juta orang telah kehilangan tempat tinggal di Iran akibat rangkaian serangan yang dimulai sejak 28 Februari lalu.
Respons Gedung Putih dan Dampak Ekonomi Kawasan
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan penilaian optimis terhadap jalannya operasi militer. Dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa strategi yang dijalankan saat ini berada di jalur yang benar.
"Perang di Iran itu berjalan dengan sangat baik," ujar Trump singkat saat menanggapi pertanyaan mengenai progres konflik tersebut.
Meski demikian, ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Gelombang drone dan rudal dilaporkan terus menyasar negara-negara di kawasan Teluk.
Bahrain, Oman, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mengonfirmasi adanya serangan yang mengganggu stabilitas keamanan dan jalur logistik di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, komunitas internasional terus memantau pergerakan militer di perbatasan Iran dan Lebanon, sementara angka korban jiwa terus diperbarui melalui sistem pelacakan langsung di wilayah terdampak.
Editor: Redaktur TVRINews





