REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Pemimpin Iran yang baru, Ayatollah Majid Khamenei, dalam pernyataan pertamanya sejak menjabat, menggambarkan fase mendatang di tengah perang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel, dengan menetapkan prioritas dalam negeri Iran dan arah konfrontasi militer di kawasan tersebut.
Poin-poin tersebut disiarkan melalui televisi Iran dalam bentuk tertulis, pada pukul 07.00. Pernyataan tersebut disampaikan dalam situasi sensitif yang dialami Iran setelah pembunuhan pemimpin sebelumnya Ali Khamenei dan meningkatnya konfrontasi militer.
Baca Juga
Diakui Militer Dunia, Ini Tabir 'Bapak Rudal’ Sosok Utama di Balik Dahsyatnya Senjata Iran
2 Pesawat AS Jatuh di Irak dan Seperti Biasa Bantah Akibat Dirudal Iran, Padahal…
Duet Maut Hizbullah-Iran Bombardir Israel Jenius, Pakar Militer Sepakat Langkah Ubah Arah Perang
Pemimpin baru tersebut mencoba menggambarkan garis besar pengelolaan perang dan memperkuat posisinya dalam hierarki kekuasaan.
Direktur Kantor Aljazeera di Teheran, Nuruddin al-Daghir, mengatakan pernyataan Mojtaba Khamenei berusaha menentukan kerangka umum kebijakan Iran dalam fase perang Teheran memandang apa yang terjadi sebagai agresi Amerika-Israel.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dilansir Aljazeera, Jumat (13/3/2026), Al-Daghir mencatat pidato tersebut berisi pesan-pesan yang jelas kepada angkatan bersenjata mengenai sifat konfrontasi yang akan datang.
Salah satu poin penting dalam pernyataan tersebut adalah penegasan kelanjutan hubungan dengan apa yang disebut Teheran sebagai poros perlawanan.
Hal ini menandakan bahwa kebijakan regional Iran akan tetap berada dalam jalur yang telah ditetapkan pada masa pemimpin sebelumnya, menurut Al-Daghir.
Pernyataan tersebut juga menyinggung Selat Hormuz, di mana Pemimpin Tertinggi Iran menyerukan kepada angkatan bersenjata untuk melakukan segala upaya agar selat tersebut tetap tertutup.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)